matahari singgah di dahimu
menyapa logika yang beku
sedikit lirikanmu berkata ya
pada sapanya. cemas, mungkin
saja dan berdebar berhitung
kalkulasi yang gagal dan berduka
sesegar tawa yang teriris getir
words for ‘getir itu sehat‘
matahari singgah di dahimu
menyapa logika yang beku
sedikit lirikanmu berkata ya
pada sapanya. cemas, mungkin
saja dan berdebar berhitung
kalkulasi yang gagal dan berduka
sesegar tawa yang teriris getir
words for ‘getir itu sehat‘
kepedihan ini mencengangkan. melontarkan sepertiga isi kepala saya ke dalam cairan asam ingatan, merembeskan liur beracun ke dalam aliran darah yang menghidupi ingatan. sementara pita-pita rekaman peristiwa itu meraksasa, diam-diam menjadi monster kribo yang bersembunyi di bawah buku-buku jari ini.
lalu, hei lihatlah, menjelma gadis manis bibir sebah gincu tebal meringis ia, mungkin menangisi tuts-tuts yang tak berbunyi atau mentertawai kecepatan ngengat menggerogoti senar-senar dalam kotak kayu mahoni, membuat monster kribo tak sempat melagukan elegi. jadilah diam-diam elegi itu dicekokkannya dalam kerongkongan saya, membuat saya tercekik dan meringis, tentu bukan menangis, sebab airmata telah lama habis.
di sini bermula
di sini berakhir
di sini beranjak
di sini bergerak
cikiniraya, 8.15 pm
melesat sejauh-jauhnya. mungkin saja
ia atau bukan, turun di perhentian ini
membangun rumahmu, dari puing-puing kita
in memoriam, june 24, 2004 - june 24, 2008
dirayu cemara biru yang mendayu-dayu
termangu-mangu fotomu dalam genggaman
kau peluk erat dokumen-dokumen ganeca
termangu-mangu kita menyeberanginya
seruas jalan. setumpuk cerita yang lirih
sampah ingatan menguning berguguran
kata-kata menangis diam-diam, hilangnya
sepotong cerita yang mengembun, pagi ini
bandung, juni 08
tiket pulang di tangan
satu kursi di nomor empat
gerbong dua entah di depan di belakang
kau ingin aku menginginkan kau tahu bahwa aku ingin kau menginginkan aku
aku ingin kau menginginkanku tahu bahwa kau ingin aku menginginkanmu
-untuk anggara
suatu kali:
kita berputar-putar dalam labirin, tidak ketemu juga tempat berhenti
waktu berbeda-beda menunjukkan wajahnya, siluman pencuri hati
detik berganti menit jam berganti hari bulan berganti tahun berganti
kali lain:
tiba-tiba saja waktu bersliweran di depan mata dan menawarkan tiket
sepotong untukmu, sepotong untuk kita, waktu itu tak henti menjual
gerbongnya keropos dimakan kata yang berkarat dimanamana
kali ini:
aku mau menyebut namamu yang bersembunyi dalam gelap
seolah-olah tidak terpindai oleh polisi-polisi ingatan yang bodoh
menginterogerasi setiap sudut-sudut yang belum selesai kita sapu
Anak-anak itu kini harus menanggung beban yang berat. Setelah laporan khusus di Kompas edisi Minggu kemarin (11/05) yang membuatku ingin menangis. Komedi ironis tragis dengan pemeran utama anak-anak usia sekolah.
Siang ini aku kembali melihat seorang ibu dan anaknya duduk manis di kafe. Dua gelas frappucino, anak perempuan seusia SD, dan ibunya sedang memegang dan membaca kertas soal ulangan. Mungkinkah mereka sedang bercakap-cakap? Aku tidak terlalu yakin. Apakah bercakap-cakap itu? Dua pihak yang saling mengungkapkan isi kepala/hatinya, dan salah satu mendengarkan pihak lain yang berbicara.. ah apalah itu namanya, komunikasi dua arah? Bagaimana dengan nona manis berkaos merah jambu dan ibunya itu? Tiba-tiba saja aku ingin menjadi meja, menjadi alas dua gelas frappucino yang tengah meleleh itu, dan diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.
Sementara itu, baru dua jam lalu seorang bocah perempuan menggelayut manja di pangkuanku. Aku tidak senang les piano, katanya. Ia berbicara tentang bagaimana sang ibu memaksanya untuk terus berlatih main piano, sementara itu ia begitu enggan, bahkan ia berkata tidak menyukainya. Hari ini dia libur sekolah karena kakak-kakak kelasnya sedang menjalani UAN. Tidak berarti libur belajar karena ia juga masih harus pergi les pelajaran dan les piano hingga petang nanti.
Kata sang ibu, beliau hanya ingin si putri bisa main piano. Kata si anak, terakhir kali ia mogok les, dibawanyalah ia kepada seorang tokoh yang dituakan dalam lingkungan mereka, seorang pemain piano yang lain, dan kembali si bocah perempuan ini mendapat berbagai nasehat tambahan untuk les piano.
“Jadi ya gitu deh, ce. Akhirnya aku les. Gimana? Masa mau ditolak?”
Eh, siapa yang bilang tidak boleh menolak, nona manis? Apa yang tak dapat ditolak, nasehat seseorang yang bukan siapa-siapa bagimu, ataukah kehendak orang tuamu yang disampaikan lewat orang lain? Apa ini namanya, persuasi atau intimidasi terselubung? Apakah arti kekuasaan seorang anak di hadapan orang tua? Masih ingat betul, bagaimana reaksi ibu sewaktu suatu hari kukatakan bahwa aku bosan jadi juara. Itu terjadi sewaktu aku duduk di kelas lima sekolah dasar, dan nilai-nilaiku menurun. Catatan tambahannya, yang diistilahkan ‘menurun’ itu adalah turunnya nilai rapor sekolah dari ranking 1 selama dua tahun sebelumnya, jadi ranking 2, lalu ranking 3 menjelang naik ke kelas enam. Hahaha, Ibu.. sungguh aku ingin tertawa bersamamu siang ini kalau kau masih ada sekarang.
Hmm.. Tidak suka les piano. Ingin si anak bisa main piano. Lebih suka menyanyi. Mewarnai. Si ibu juga bengong waktu kutanya kenapa si anak ikut ujian piano jenis X dan bukannya ikut jenis Y. Si anak pasrah betul menjelang waktu ujian sebulan lagi.
“Ya sudahlah, ce. Ngawur-ngawuran aja.”
Lhah. Tuhan, bagaimana cara memikat hati seorang bocah, sementara belum satu bocah pun kulahirkan? Jarak usia antara orang tua dan anak yang terlalu jauh, bentuk komunikasi yang kurang tepat, seni mendengarkan dan memahami.
Baru sepuluh tahun menjalani hidup di dunia, mengapa begitu banyak beban yang harus dipikul oleh seorang anak? Ketika aku duduk di sekolah dasar dua puluh tahun silam, tidak kukenal istilah ‘les pelajaran’. Apalagi jenis les yang berfrekuensi setiap hari, semua pelajaran, jadwal ulangan dipegang guru les, sekalipun ibuku seorang perempuan pekerja. Demikian pula dengan adikku yang ketika itu terlambat mampu belajar membaca dan menulis untuk anak seusianya sehingga sempat membuat ibuku panik. Mengurus suami yang sakit, dua anak kecil, pekerjaan yang harus dijalani jika ingin tetap dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ibu, aku tahu kau tidak sempurna. Buruk mungkin, di mata sebagian orang. Tetapi aku juga mendengar sebagian lain berkata kau salah satu orang-orang terbaik yang pernah mereka kenal. Mungkin kau bukan ibu yang sempurna untuk kami berdua. Tetapi aku sungguh bangga telah lahir dari rahimmu. Ibu, aku rindu padamu.
Dan, hei! Nona muda yang manis, Sabtu besok aku akan datang, bermain dan belajar bersamamu. Mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kita bersama, mungkin pertanyaan-pertanyaanku yang belum terjawab.
seduhan perasaan yang sia-sia
airmata;
terbuat dari apakah ia, kekasihku?